Which One?

ba61188ca16dced7fde530b5f382c94e

megsmuggle present

Which One?

 Starring

[GG] Choi Sooyoung and Kwon Yuri

 Yesung, or I?

“Hey, Young.” Yuri mengaduk-aduk minumannya. Sudah lima menit, dan belum satu teguk pun air itu melewati tenggorokannya.

Yang dipanggil, Sooyoung, hanya menanggapi dengan gumaman. Sibuk dengan ponsel yang sedang tersambung dengan wifi kafe tempat mereka mematung.

“Hei, aku ingin bertanya. Bisakah kau dengarkan aku dulu? Simpan ponselmu, Yesung bisa menunggu.”

Sooyoung akhirnya meletakkan ponselnya. Dengan senyum lebar, ia membuka percakapan. Bukan percakapan yang Yuri harap, tentunya.

“Pfft. Kau harus mendengar leluconnya! Ini sangat lucu! Oh, ya ampun, aku tidak tahu Yesung se-lawak ini!” Tawa Sooyoung, tanpa bisa di tahan-tahan, meluncur bak air bah. Membuat Yuri memutar sedotan minumannya lebih kencang.

“Aku serius, Choi Sooyoung. Dengarkan aku.”

Nada suara Yuri yang menakutkan, ditambah menyebut nama lengkapnya, membuat tawa Sooyoung teredam seketika. Meringis sebentar, sebelum akhirnya menegakkan badannya sedikit condong ke depan, malah.

Yuri menghela napasnya, memilih memalingkan wajahnya ke samping, melihat para pejalan kaki yang berjalan dengan langkah besar-besar sambil sesekali melirik jam tangannya.

Sooyoung tahu ada yang janggal, karena itu, dia masukkan ponselnya ke tas kecilnya, lalu fokus memperhatikan tingkah laku sahabatnya itu.

 

Tiga puluh detik keheningan.

 

Empat puluh lima detik keheningan.

 

Saat jarum detik hampir menunjukkan angka satu menit, Yuri mengeluarkan suaranya. Lirih.

“Young, kau lebih memilih siapa?”

Sooyoung yang hampir saja menyandarkan badannya, refleks menegakkan kembali badannya. Tidak bertanya, hanya menatap Yuri dengan wajah kebingungan.

Lagi, Yuri menghela napasnya.

“Lebih baik melepaskan sahabat perempuanmu atau sahabat lelakimu?”

Sooyoung ingin terbahak, tapi tidak jadi, melihat atmsofer keseriusan yang benar-benar mendominasi (oh, Sooyoung tak pernah menyukai ini.).

“Kau sedang ada masalah dengan Siwon? Dia bertanya siapa yang lebih penting antara aku dan dia?”

Sooyoung tidak peka, kalau boleh kuperjelas.

“Tidak, bukan tentang Siwon atau hubunganku dengannya. Aku bertanya tentang kita, Young. Aku, dan Kamu.”

Sooyoung sudah membuka mulutnya, tapi tak jadi berbicara. Lama terdiam. Yuri masih saja melihat ke luar kafe.

Dengan ragu, Sooyoung membuka kembali mulutnya, “Kita? Sesuatu hal yang buruk terjadi pada… Kita?”

Yuri memutar kepalanya, menatap Sooyoung dengan tatapan sayu.

Sooyoung tahu, meski Yuri tidak mengatakannya, tapi jelas, ini menyangkut hal yang buruk.

“Lebih baik melepaskan sahabat perempuanmu atau sahabat lelakimu? Dengan kata lain, kau pilih aku, atau Yesung?”

Meski nada suara dan ekspresi Yuri saling mendukung menuju kesedihan, tapi Sooyoung tak bisa menahan dirinya untuk tertawa. Terdengar jahat memang, tapi mau bagaimana lagi?

Mengusap air mata di ujung matanya, Sooyoung berujar, “Ya ampun, Yuri, sejak kapan kau menjadi melankolis begini? Dan… Apa? Antara kau dan Yesung? Pfft! Aku tak kuat menahan tawaku!”

Dan, yah… Mau tak mau, suasana yang sudah Yuri bangun sedemikian rupa, mulai terkikis.

“Ya-yak! Aku serius!”

“Kau diajari Siwon, ya? Atau Kyuhyun? Ah, jangan-jangan Lee Minho, lagi?! Aku tak percaya dapat melihat melankolis-Yuri! Ah, aduh perutku…” Sooyoung memegangi perutnya yang mulai kram, sedangkan Yuri menatap sahabatnya dengan kesal.

“Jawab saja, pokoknya!”

Sooyoung meminum minumannya dua teguk, sebelum akhirnya menjawab,

“Tentu saja aku lebih memilih sahabat perempuan! Kau tau kenapa? Karena sahabat laki-laki tidak bisa diajak tidur bersama, tidak bisa diajak berbelanja bersama, tidak mengerti apa perbedaan lipstik dan lip gloss, tidak mau ikut pusing mengenai pakaian apa yang harus dikenakan saat prom sekolah, tidak bisa satu sendok dan satu sedotan bersama, dan yang terpenting, tidak bisa masuk satu kamar mandi bersama!

“Ya ampun, Yul, untuk hal seperti itu saja masih kau tanyakan? Ckckck… Siwon benar-benar membuat pacarnya menjadi melankolis.”

Tiga tegukan lagi untuk mengakhiri kalimat panjang dengan lima tarikan nafas itu.

Yuri terdiam sebentar (lebih tepatnya, sih, tercengang), namun akhirnya, tanpa aba-aba, bibirnya tertarik ke atas, membentuk sebuah lengkungan panjang yang membuat semua orang berpikir dia baru saja disapa oleh idolanya. Terlalu lebar untuk ditujukan pada perempuan di depannya.

“Kau serius, ‘kan?” Masih dengan senyuman lebarnya, Yuri bertanya memastikan pada perempuan di depannya yang sudah bersandar di kursinya dengan santai, sambil berusaha menghabiskan tetes terakhir minumannya.

Anggukan pasti Sooyoung membuat Yuri tertawa senang (atau tertawa haru? Melihat air mata jatuh ke pipinya.), Yuri berdiri, lalu menyebrang, memeluk sahabatnya.

“Kau sungguhan serius, ‘kan, Young? Oh, ya ampun, akan kubunuh Siwon sepulang dari kafe ini. Apanya yang seorang perempuan akan lebih mementingkan lelaki yang dekat dengannya, lalu melupakan sahabat perempuannya? Siwon benar-benar mengatakan sebaris omong kosong!”

Sooyoung hanya mengangguk-angguk, mengambil gelas minuman di depannya, kemudian meneguknya hingga habis.

“Sudah, putuskan saja. Sudah kubilang sepupuku itu terlalu menganut banyak teori!” Yuri mempererat pelukannya, sebelum kembali ke tempat duduknya semula.

“Jadi, Young, kau—”

“Ah tunggu dulu, Yesung meneleponku! Eh, tidak, aku tetap memilih kau kok! Percaya padaku! Halo, Yesung? Yak, jangan menatapku seperti itu, Yul!”

.

.

.

“Atau mungkin aku harus mengikuti salah satu teori, Siwon, Young? Kurasa, sekali-sekali, aku akan mengikutinya. Bye, Sooyoung!”

“Yak! Tunggu Yul! Aduh, sebentar, ya, Yesung. Yul! Paling tidak bayar dulu minumanmu!”

.

.

“Err… Kalian baik-baik saja, Soo? Pie untukku, jangan lupa di bungkus!”

Argh!

“Kalian berdua, berhenti! Lebih baik aku ke rumah Kyuhyun saja kalau begini!”

 

Fin!

Hai! aduh ya ampun, sudah terbengkalai berapa lama blog ini huhu T^T

setelah wifi rumah yang rusak, terus kuota yang langsung abis di 10 hari pertama, akhirnya aku bisa nge-post lagi dengan modal wifi sekolah MWAHAHAHAHA

Dan, yah, itu, emm… Tentang Fiance, kayaknya bakal aku stop dulu. Maaf ya, soalnya harus ngumpulin mood dulu buat nulis panjang HAHA. Minta dibunuh emang aku :<

Makasih buat yang mau baca tulisan aku yang makin ancur ini X)

Bye!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s