Smile

6869e60e4a646006a2a9b24fac52bc40

Wajah datarnya saja cantik, apalagi wajah bahagianya!

Smile

by Blowpie

Starring [SJ] Kyuhyun and [GG] Sooyoung

 

Ada perempuan aneh di kampusku. Aku baru menyadarinya beberapa bulan ini. Dia tidak pernah tersenyum, selalu memasang wajah datar dimana pun kapan pun. Tapi bukan berarti dia seorang psycho—yah, meski awalnya aku juga mengira begitu.

Dia normal, kurasa. Dia cantik, rambutnya selalu di ikat meski tanggung, dan dia berteman dengan Yuri dan Yoona—fyi, yang satu Queen Bee, yang satu lagi Idola para pria kampus. Ah, dan baru-baru ini, aku tak sengaja melihatnya di kafe, bersama Hyoyeon—si Ketua BEM, dan mereka (sepertinya) sedang membicarakan hal yang serius, ditemani tumpukan proposal.

Jadi, ini kesimpulanku (setelah mengamatinya selama berbulan-bulan). Dia sangat normal. Tidak ada gangguan jiwa. Dan dia anak famous.

Lalu pertanyaanku: Kenapa dia tidak pernah tersenyum?

Hei, dia cantik. Sangat. Wajah datarnya saja cantik, apalagi kalau dia mau bersusah payah menarik sedikiiit saja bibirnya, membentuk sebuah lengkungan yang indah, sudah pasti aku jatuh padanya. Jarang-jarang aku mengakui kecantikan orang lain—yang sering kali palsu ditimpa make up—kecuali cantiknya paras ibuku dan, uhuk, kakakku.

Sebetulnya, karena dia orang normal, sudah pasti tak ada hari tanpa tawa. Dia sering tertawa, kok, tapi di balik maskernya. Berkumpul dengan teman satu gengnya pun dia memakai masker untuk menutupi tawanya. Dan teman-temannya tidak menganggap itu hal yang aneh, mereka tidak merasa terganggu, tuh, kelihatannya. Kalau aku sih, sudah pasti langsung menarik maskernya, lalu berucap; “sok misterius sekali, sih, kau! Memangnya kau Kakashi, hah?” Dan kemudian aku akan bersujud sampai dahi menyentuh tanah.

 

Ini akhir ceritaku, tersimpan dengan indah di memori otakku, menaruh rasa sakit yang dalam di hatiku. Kurasa itu bayaran yang sepadan untuk melihat senyum bahagianya.

Hari ke seratus… Sembilan puluh? Aku melihatnya berlari ke arah taman. Rambutnya hari itu tergerai indah. Kupikir ikat rambutnya terlepas saat ia sedang berlari kencang. Dia tetap memakai masker birunya, namun dari matanya yang melengkung lebih dalam dari biasanya, aku tahu dia sedang sangat bahagia.

Refleks aku mengikutinya. Melihat matanya, mungkin kali ini aku bisa melihat senyumnya. Di taman kampus memang banyak pepohonan, dan diantaranya ada pohon Sakura. Mengingat sekarang musim gugur, Sakura pasti akan sangat indah untuk dipandang.

Benar saja, dia berhenti di sebuah pohon sakura. Melihat sekelilingnya dengan kalut, (aku cepat-cepat merunduk di balik semak) dan kemudian pandangan matanya melembut dibarengi dengan gerakan tangannya yang membuka masker. Dia mengatur napasnya. Menunggu di bawah salah satu pohon sakura yang sedang melepas pergi daun-daunnya. Dia terlihat bahagia.

“Aku pulang….” ia memutar badannya seratus delapan puluh derajat dengan kecepatan cahaya. Terlihat terkejut.

Begitu juga aku.

Seorang laki-laki dengan jaket hitam dan celana jin tersenyum lebar. Kedatangannya bagai aktor drama, tiba-tiba, dan dihujani sakura. Aku melongo. Sempat berpikir bahwa aku harus ikut ber-akting juga, sebagai seorang kameramen.

Dia, dengan rambut sebahunya yang tertiup angin semilir tersenyum lebar sekali. Pupilnya seperti terkurung dalam mata coklat pria itu.

Aku kenal tatapan itu. Kakakku bilang ini saat memergokiku menatap foto dia, tatapan jatuh cinta. Jatuh cinta sampai taraf kau akan melakukan segalanya untuk cintamu.

Tatapan ibuku pada ayahku.

Tatapan kakakku pada suaminya.

Dan tatapannya pada… Pria itu.

Tentu saja, tatapanku padanya.

Dia masih tersenyum lebar. Tampak sangat bahagia. Aku yakin sebentar lagi dia akan menangis.

Pria itu melangkahkan kakinya, mendekatinya, kemudian memeluknya. Seketika itu juga tangisannya pecah. Dia memeluk pria itu erat. Terlampau erat sampai buku-buku kukunya berubah putih.

Sepenting itukah pria itu?

“Terimakasih sudah menungguku,” pria itu berbisik penuh sayang. “Dan menepati janjimu… Terimakasih. Aku mencintaimu.” Dia mengangguk, masih dengan senyuman. Sepertinya, mulai sekarang senyumnya permanen.

 

Pria itu mengangkat kepalanya, menatapnya dengan senyuman tulus, seperti itu tak apa-apa, meski wajah wanitanya tidak secantik model.

Aku tak yakin apa yang akan mereka lakukan. Tepatnya, aku berharap pikiranku salah, pradugaku terlalu berlebihan.

Aku yakin mereka akan berciuman!

Tidak, lupakan! Dia sudah mempunyai pacar, ‘kan? Aku harus melupakannya. Dan proses pertama untuk melupakanya adalah tidak peduli.

Aku tidak peduli. Mereka akan berciuman kah, mereka akan berpelukan erat kah, atau apapun itu aku tidak peduli.

Tapi kemudian, kalimat yang keluar dari mulutku jelas menunjukkan bahwa aku peduli.

 

“Wow! Sakuranya sangat indah!”

.

.

.

Ada pria aneh di kampusku. Kalau aku tak salah ingat sih, aku pernah melihatnya di taman kampus, saat musim gugur, tepat pada pertemuanku dengan pacarku yang baru saja pulang dari perjalanan dinasnya selama satu tahun.

Pria aneh di kampusku itu tak pernah tersenyum, padahal dia cukup tampan. Aku juga pernah sih, tidak tersenyum selama satu tahun—maksudku, menunjukkan senyumanku pada pria lain. Tapi dalam kasusku, itu karena perjanjianku dengan pacarku. Nah, pria itu? Setahuku dia tidak mempunyai pacar. Aku tahu karena dia adalah pria incaran Seohyun, adik satu tingkatku yang baiknya minta ampun. Seohyun bukan tipe perempuan yang akan merebut milik orang lain, jadi sudah pasti si Pria Aneh itu tidak mempunyai pacar.

Ah, tapi apa peduliku. Masa bodoh deh dengan sikap sok dinginnya.

 

fin.

setelah lama di simpen, akhirnya selesai juga. maaf kalau berantakan, ngeditnya buru-buru pake banget.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s